My Oriflame Story of the Day

Tomboy atau Waria???

Semangat Oriiiiii….!!!

Hehehe, sebenernya aku udah mulai nulis cerita ini dari tadi malem. Tapi ni kepala tiba-tiba tuing-tuing, pusing gitu. Hahaha. Padahal ini mata masih 300 watt, masih semangat nuliiis. Ya udah deh. Finally, matiin leppy trus rehat. Alhamdulillah, hari ini bisa selesai.

Happy reading guys 😀

😀 🙂 😀 🙂 😀

Good evening buddies!!! 😀

Jadi inget taruna-taruna gundul AKPELNI 😛

Yuhuuuu, misss U guys ^^

Well, Trisnie mau bagi cerita oriflame pagi ini (Jan 6, 2014) . Simak baik-baik yaaaa??? Anggep aja dongeng sebelum tidur 😀

Pada hari ini, datang juga penolakan ke-43. Hadewwh, belum ada downline 1 pun. Itu artinya perolehan point masih tergantung pada diri sendiri. Mulailah ini otak muter-muter, mau dibawa kemana ni 20 katalog? Tetangga juga belum banyak yang kenal. Mau door to door, eeeh si HB bukannya ngasih izin tapi malah nawarin tiket PP Kalimantan-Jawa buat presentasi di Ponorogo. Syeeeek asyyeeeekkk.

Langsung dah sms sana sms sini, telfon dia, dia, dia, siapa tau mau bantu gitu. Ternyata kegiranganku ini tidak bertahan lama. Nihil. Belum ada yang tertarik. Lemes aku. Eiiiiiitsss, tunggu dulu. Baru inget kalo tadi pagi juga ngirim katalog oriflame buat ibuk di Ponorogo. Pelanggan jahit ibukku kan banyak beud, hampir semuanya adalah wanita, entah itu anak-anak, remaja, dewasa atau ibu-ibu RT. Nah, dari semua pelanggan ini, mayoritas betah banget ngoborol ngalor-ngidul sama ibuk dulu setelah hajat mereka selesai. Standarnya orang jahitin baju itu kan datang nganterin kain, milih gambar atau sebagian juga ada yang udah bawa model sendiri, trus diukur. Selesai deh. Nggak sampai 15 menit lah kalo orangnya nggak rewel. Buat yang rewel 30 menit itu cukup lah.

Berlanjut ya, setelah bertahun-tahun tinggal 1 atap dengan ibuk, hafallah aku, mana ibu-ibu yang betah berlama-lama ngobrol.  Kata ibuk orang-orang itu betah berlama-lama di rumahku karena ibuk itu enak diajak ngobrol. Nah, dari sini timbul ide buat ngirim katalog oriflame ke rumah. Lumayan kan kalo bisa ngumpul order 50-60 BP. Hahaha. Jadilah 10 katalog plus 5 bendel summary fakta & serba-serbi bisnis oriflame, 5 bendel testimoni orang-orang yang telah sukses menapaki tangga success plannya oriflame, dan 5 bendel keterangan produk nutrishake terpaking pagi ini dan langsung memanfaatkan jasa pos Indonesia. Kilat khusus, Kamis depan InsyaAllah sampai.  Semoga ada 10 orang membaca bendel-bendel summaryku dan tertarik untuk bergabung bisnis ini. Amin.

Oke, urusan kirim mengirim udah selesai ya. Sekarang ganti cerita baru ni 😀

Hari ini HB pulang jam 17.00 WITA. Langsung dah ngeluarin bekal makan siang yang masih utuh dan belum tersentuh. “Aku laper, tadi siang nggak makan. Lupa kalo bawa bekal,” kata HB sambil nyengir dan langsung melahap habis isinya. Aku temani HB makan sambil memotong sayur untuk dimasak. “Yuk ntar malem beli gule,” kata HB disela-sela makan. Langsung aku jawab, “Boleh boleh boleh. Ya udah nggak usah masak.” Sebenarnya bukan gule kambing seperti di Jawa, susah cari gule kambing di Borneo ini. Trus gule apa dong? Gule sapi. Hehehe. Imitasinya gule kambing gitu deeh, nggak ada satenya pula. Tapi cukuplah buat ngobati getir lidah yang kangen rasa gule.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Warungnya tutuuuuuppp. Hahahahaa. Pelanggan kecewa. Langsung dah puter balik, tengok sana tengok sini, akhirnya makan seadanya aja yang penting cepet saji, udah kukurunyuk ni perut. Harus cepet-cepet diisi.

Selesai makan, lanjut ke rencana awal. Jadi gini, sebelum berangkat tadi aku udah ada trencana untuk nyebar 2 katalog malam ini. Akhirnya aku tentuin dah targetnya. Ibu si pemilik toko yang menjual kebutuhan sehari-hari dan mbak baik hati pemilik toko kelontong yang suka kasih diskon. Hehehe.

Alhamdulillah, target pertama berhasil. Ceritanya, aku masuk toko, tujuannya maubeli garam dan mie. Garamnya ketemu tapi mie-nya nggak ketemu. Tanyalah aku sama mbak penjualnya. Oh ya, tadi itu yang melayani anak ceweknya, cakeeep beud. Hehehe. Setelah mbak tadi celingak-celinguk nggak nemuain barang yang mau aku beli, 1 jawaban yang aku terima, “Mie-nya habis mbak,” kata dia. Langsung aku ganti pertanyaanku, “Kalo cling pembersih kaca mbak?” Maklum, aku udah muterin toko yang nggak seberapa besar itu tapi nggak ketemu. “Bentar ya mbak,” katanya setelah nggak menemukan juga apa yang ku cari dan langsung berlari ke belakang untuk tanya ibunya. Dari dalam aku dengar ibunya berterikak kalau benda yang aku cari itu ada di dekat baby stuff atau di etalase. Langsung mataku tertuju ke baby stuff yang tepat terpampang di depan tempatku berdiri. Cepat kuedarkan pandangan menelanjangi sekujur baby stuff. Nihil. Berarti ada di etalase, semoga saja. Benar saja, mbaknya tadi langsung memanggilku, “Ini mb cling-nya, berapa?,” tanyanya kemudian. “1 aja mb,” jawabku. “Oh  ya, wiper-nya ada juga?,” lanjutku. “Wah, maaf mbak nggak menyediakan wiper disini. Apa lagi mbak?.” “Itu aja mb?” Sambil menunggu dia menotal belanjaanku, iseng-iseng aku muter di rak snack. Potato, chitato, taro, qytela, semua melambaikan tangan ke arahku. Maaf ya kawan, aku lagi tidak berselera melahap kalian 😀 Sepersekian detik langsung ku putar kepalaku dan sreeettt, pandanganku jatuh pada sekotak tango, ada vanila dan coklat. Yaps, chocolate is my destination one. Cepat-cepat ku raih dan menambahkannya pada keranjang belanjaku. “Sudah mbak, berapa semua?,” tanyaku. “Rp 18.000,00 mbak.” Langsung ku keluarkan dompet dan memilih jumlah rupiah yang pas atau paling tidak mendekati angka itu lah. Sambil terus mengacak-acak isi dompetku, beraksilah aku, “Mbak, tertarik pakai produk oriflame kah?” tanyaku dengan diakhiri ‘kah.’ Heran juga aku sejak kapan logat Jawaku ikut-ikutan trans. “Mbak jualan oriflame kah?,” dia tanya balik. “Iya mbak,” jawabku singkat, “Mau  liat-liat katalognya kah?,” lanjutku. “Bawa kah?,” Waaaooowww mulai tertarik dia. Langsung ku keluarkan sebuah katalog oriflame yang sudah ku tempel identitasku di cover depannya. “Ini mbak, baca-baca dulu. Ntar kalo mau order, hubungi saya ya mbak. Nama dan nomor hp saya udah tertempel di depan,” kataku panjang lebar.”Mbak tinggal dimana kah?,”  “Di Petung mbak.” Bodoh juga aku ini, toko ini juga ada di Petung, harusnya aku tadi jawab di RT.014 Petung. Hahaha. “Ini ditinggal disini kah mbak?” tanya dia ketika aku langsung cabut setelah selesai melakukan transaksi. “Iya mbak, lihat-lihat aja dulu. Kalo ada yang cocok silahkan order. Permisi ya mbak.”

Wuuuuzzzz, ada perasaan lega luar biasa. 1 katalog telah berpindah tangan. Semoga ada rezeki yang dititipkan Sang Rozzaq lewat mbak cakep beud tadi. Amin.

Lanjut pada target selanjutnya, toko kelontong si mbak baik hati. Sebenernya aku udah lupa-lupa inget dimana kiosnya. Mungkinkah sudah terlewat? Dan benar saja, si HB berhenti di depan toko kelontong yang lain, bukan punya si mbak baik hati. Dalam hati aku bergumam, “Ya Allah, kok rame gini, gimana mau ngobrol sama empunya toko.” Tapi ya udahlah nggak apa-apa. Aku langsung masuk. Ku edarkan 2 bola mata untuk menyisir seluruh penjuru toko yang terbagi menjadi 2 tempat dengan sebuah sekat teralis besi di tengahnya. Ternyata barang yang aku cari berada di sebelah. Berjalanlah aku kesana. Milih-milih perkakas yang mau aku beli. Tak lama kemudian, si HB udah muncul di belakangku. Mau beli ‘welcome’ dia. Tau kan ‘welcome’ itu bahasa Indonesianya apa? Selamat datang? Yups bener sekali. Tapi disini yang dimaksud adalah ‘welcome’ yang buat keset itu lo, yang ditaruh di depan pintu masuk. Hahaha. “Eh, itu ada wiper,” kata si HB tiba-tiba dan langsung menuju ke wipers yang tersedia disana. Ada beberapa pilihan warna. “Mau warna apa?” tanyaku. “Ijo,” jawab HB spontan. Hahaha. Lagi hoby beud warna ijo, hampir semua perkakas warna ijo, kalo nggak ada ijo, kuning gading is oke lah 😀

1 barang udah di tangan. Lanjut dah milih-milih lagi. Alhamdulillah, semuanya dapet. Wiper, mangkuk besar, sendok sayur dan si welcome. Ckikikikiiiikkk. Yuk bayar.

Dasar aku ini suka laper mata kalo udah di depan stationery. Hehehe. Selalu aja tertarik sama pernak-pernik lucu yang tergantung di bolpoint. Untung si mbak penjual segera menghampiri aku. “Sudah mbak? Tambah apalagi?” tanyanya dari belakang etalase. Shop keeper-nya adalah seorang wanita berjilbab usia 20-30 an lah. Bertubuh mini. Polos beud mukanya, tanpa coret moret make up.  “Udah mb, langsung total aja.” Langsung dah mencet-mencet tombol kalkulatornya. Sambil nunggu dia ngitung, aku tengok ke belakang. Ada seorang wanita dan pria yang sedang bercakap-cakap di sana. Si wanita di belakang etalase dan si pria di depan etalase. Aku pikir si mbak yang berdiri di belakamngku itu owner tokonya dan si mbak di depanku ini adalah assitennya. Ada sedikit penyesalan di hatiku, kenapa nggak mbaknya itu yang melayani aku ya. Karena muka si mbak itu tampak akrab dengan make up. Terlihat ada sapuan bedak minimalis dan bentuk alis yang rapi. Waaah, sasaran empuk sebenarnya. Tapi tiba-tiba dia bilang, “Fit aku pulang dulu ya. Ntar kalo ada barang bagus aku kesini lagi.” Meleset dah tebakanku. Dia hanya pengunjung. “Rp 73.000, 00 mbak.” Haaa…aku gelagapan. “Semua Rp 73.000,00 mbak. Dah Rp 70.000, aja.” Yuhuuuu, diskon cantik untuk konsumen cantik 😀 Buru-buru aku keluarkan dompet dan mencari jumlah rupiah yang pas. Pembayaran lunas. Sebelum cabut langsung deh aku tembak mbak di depanku ini, berhubung sudah malem dan keperluanku sudah selesai. “Mbak, tertarik produknya oriflame kah?” pertanyaan serupa aku lontarkan ke-2 kalinya untuk 2 orang yang berbeda. “Haaah…apa mbak?” tanyanya sedetik kemudian sambil menatap lurus ke mataku. JLEBBB. Merinding aku ditatapnya kaya gitu. Sebisa mungkin aku kendalikan rasa takutku dan kuulangi lagi pertanyaanku. “Tertarikkah pada produknya oriflame? Kalo tertarik saya bawa katalognya ni, buat dilihat-lihat.” Kembali dia menatapku dan bertanya, “Apa itu? $$$$$$$$$$$$$$$$$$$…..” Hanya ‘apa itu’ saja yang terdengar jelas di telingaku. Selanjutnya dia mencerecau tak karuan. Kok jadi agak cadel dan nggak jelas gini ngomongnya. Ditambah dengan dagunya yang ditarik penuh sampai leher. Belum lagi, tatapannya itu looo, mendelik. Wooooo. Kaya mata cowok. “Srreeeeeet” dia bergerak menjangkau tas kresek hitam di belakangnya. Wah hafal aku model-model kaya gini. Ragu juga aku mau memastikan. Tomboy??? Waria??? Waaahhhh, aku nggak mau berpikir aneh-aneh. Matanya itu lo masih mengekor. Serasa ditelanjangi. Langsung dah ambil ancang-ancang. “Ya udah mbak kalo nggak tertarik. Permisi dulu ya mbak.” Weeeeerrrrrrrrr,,,kenceng beud kaki ini melesat. Tau-tau udah disamping HB. Tanpa ba bi bu, HB langsung tancap gas. Pulang.

Di jalan aku tak henti-hentinya menepis semua ketakutanku. Allahu Robb, lindungi hatiku dari berburuk sangka. Aku anggap ini hanya perasaan sedikit shock karena memang ini adalah kali pertama aku bertemu orang itu dan semoga tidak menjadikanku kapok belanja disana.

Huuuufttt, semoga hari esok lebih cerah. Belum ada tanda-tanda prospek ataupun orderan yang dateng buat tutup poin bulan ini. Fine, harus terus bergerak. Pasti bisa. Insya Allah.

Penajam Paser Utara, Jan 7, 2014

12.21 p.m (WITA)

Independent Oriflame Consultant

Trisnie Sofyan